11.28.2011

Karena ayah punya cara sendiri mencintai kita

Tidak pernah di duga dan tak pernah di sangka ternyata ayah punya cara sendiri dalam mencintai kita. Dulu ketika masih MTsN-SMA , aku sering merasa bahwa semua keinginanku jarang yang di penuhi. Ketika teman-teman bisa mengikuti perkemahan pramuka, aku justru dilarang pergi. Ketika teman-teman bisa pergi ke Padang atau Bukittinggi tanpa kawalan orangtua, aku justru harus berbesar hati untuk tidak pergi. Ketika teman-teman bisa mengikuti jurit malam terap pramuka, aku tidak di perbolehkan . Ketika mereka tidak di marahi karena pulang sudah hampir magrib aku justru di marahi. Seringkali aku menangis ketika semua itu terjadi, kenapa mereka diperbolehkan orang tuanya , kenapa aku tidak?. Seringkali kali kata-kata itu keluar dari mulutku ketika aku ingin mengikuti sesuatu namun tidak di izinkan ayahku, dan jawabannya jika aku anak ayahku maka aku harus mematuhinya jika tidak silahkan ikuti mereka. Tak ayal lagi air mata ini pun mengalir ketika itu. Aku tidak bisa saja pergi karena aku tau bahwa pergi tanpa ridho ayahku berarti pergi tanpa ridho Allah, dan ketika itu aku tak berani untuk membantah lagi. Semua nya ku simpan di hati sehingga membuat mata ini tak berhenti menangis. Ketika usiaku mulai bertambah, barulah kusadari bahwa semua itu bentuk cinta ayahku kepadaku. Beliau tidak ingin anak perempuannya sakit, tidak ingin anak perempuannya luka, tidak ingin anak perempuan di ganggu orang. Kadang aku tak menyadari semua itu sehingga menganggapnya sebagai penjara. Tapi ketika ku kuliah di Padang aku merindukan itu. Ayahku memang tak pernah mengungkapkan rasa cinta nya secara jelas sehingga kadang aku tak tau. Tapi ku yakin bahwa sebenarnya itulah cara ayah mencintaiku.
_Saat-saat merindukannya, Semoga Allah senantiasa menjaganya kita ketika penjagaan kita tidak sampai kepada beliau_

10 komentar:

  1. Yapz...
    Dulu ketika kita masih belum paham, kita selalu beranggapan bahwa, ketika apa yang kita inginkan tidak dituruti, berarti beliau tidak sayang. :)

    Aku jg baru menyadari hal itu setelah merantau. Hidup jauh dr orang tua dan keluarga...

    BalasHapus
  2. ya,

    btw blog d wordpress d delete y?why?
    sdgkan sy smpat kpikiran pndah k wrdpress..hehe..:)

    BalasHapus
  3. Asw.ie, kak izin copas article call ie ya...
    ^_*

    BalasHapus
  4. W3 kak,yup2...tafadholli kak..hihi..tgas pak aufa y kak?
    :)

    BalasHapus
  5. sepertinya pernah baca judulnya di salah satu majalah...mmm...tarbawi kah?
    :)

    BalasHapus
  6. Ya gitu deh...
    Semangat!!! (haha, menyemangati diri sendiri)
    ;)

    BalasHapus
  7. bg rahmat : iya bg, tarbawi edisi khusus malah, :)
    kak rahma :hehe...semangka kak...

    BalasHapus
  8. hehehe,,,ngga' dihapus kok. :)
    ganti nama aja.

    coba di cek dimari http://penyukakopi.wordpress.com/

    BalasHapus
  9. asyiknya yang masih punya ayah. :)
    syukron udah berkunjung ke blog saya ya, ukh.
    salam ukhuwah :)

    BalasHapus
  10. sama2 bg,
    salam ukhuwah..:-)

    BalasHapus